Fakta-Fakta Tragedi Kanjuruan Memakan Banyak Korban

Fakta-Fakta Tragedi Kanjuruan Memakan Banyak Korban

By Divisi News 9 min read
Fakta-Fakta Tragedi Kanjuruan Memakan Banyak Korban


Tragedi Kanjuruhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur,  menjadi catatan kelam sepak bola Indonesia yang banyak menewaskan korban supporter Arema, Sabtu (1/10) malam. 

Latar belakang terjadinya Tragedi Kajuruan yaitu kekalahan Arema FC selaku tuan rumah yang dikalahkan. Dari situlah mulai terjadinya kerusuahan yang melibatkan supporter dengan aparat kepolisian, hingga terjadi penembakan gas air mata oleh aparat. Hal tersebut memicu kontroversi, karena FIFA menyatakan bahwa gas air mata di dalam studion itu dilarang. Berikut beberapa fakta menarik tragedi Kanjuruhan: 

1. Tewasnya Korban Tragedi Kanjuruhan Versi Polisi 

Kapolri Jendral Pol Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan terdapat 125 korban yang tewas pada saat tragedi Kajuruhan. Data terbaru, menurut Menko PMK Muhadjir Effendy mengonfirmasi angka korban tewas yang disebutkan kepolisian yakni 125 jiwa. 

"Hasil akhir dari korban yang sudah diverifikasi semua pihak termasuk Polri dan penyelenggara ada 448 korban," kata Muhadjir usai rapat koordinasi di Pendopo Panji, Kepanjen, Malang, Senin (3/10), seperti dikutip detikcom. 

Muhadjir kemudian menjabarkan dari total korban tersebut, 125 orang meninggal dunia, 302 orang mengalami luka ringan, dan 21 orang menderita luka berat. Dia  berharap dengan pernyataannya, tak ada lagi simpang siur informasi mengenai korban tragedi Kanjuruhan Malang tersebut. 

2. Gas Air mata 

Gas air mata  diduga menjadi penyebab ratusan korban berjatuhan dalam tragedi. Aparat  dikritisi karena menembakkan gas air mata, bukan hanya ke lapangan yang ada suporter turun, tetapi juga ke tribun penonton. Organisasi sepak bola dunia, FIFA, menjelaskan tentang  larangan penggunaan  gas air mata dan senjata api untuk penanganan massa di dalam stadion. 

Aparat  berdalih gas air mata dikeluarkan untuk meredakan  kericuhan suporter. Menko Polhukam Mahfud MD pada saat yang sama secara terpisah menyatakan penggunaan gas air mata seusai pertandingan Arema FC melawan Persebaya semata-mata karena penonton mengejar pemain. Ia menyatakan tujuan aparat  menembakkan gas air mata agar situasi di lapangan kembali kondusif. 

"Ada yang mengejar Arema karena merasa kok kalah. Ada yang kejar Persebaya. Sudah dievakuasi ke tempat aman. Semakin lama semakin banyak, kalau tidak pakai gas air mata aparat kewalahan, akhirnya disemprotkan," terang Mahfud. 

3. Penonton di Tribun Panik Adanya Gas Air Mata 

BPBD Provinsi Jawa Timur mengungkapkan penonton mencoba menjauh menghindari gas air mata yang ditembakkan polisi.  Degan cara mencoba keluar dari pintu keluar tribun yang tak cukup besar untuk menampung sekaligus penonton keluar. 

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur Budi Santosa menyebut para penonton yang berlarian itu akhirnya menyebabkan situasi kacau hingga terdorong dan ada juga yang terinjak penonton lain. 

"Dari tembakan gas air mata itu suporter yang mencoba menghindar harus mengorbankan penonton lain dengan menginjak-injak guna menyelamatkan diri dan banyak dari penonton yang mengalami sesak napas akibat asap gas air mata," ujar  Budi. 

Sumber: CNN Indonesia