Puncak Musim Kemarau 2023 terjadi di Bulan Juli dan Agustus, Berikut Faktanya!

Puncak Musim Kemarau 2023 terjadi di Bulan Juli dan Agustus, Berikut Faktanya!

By Divisi News 9 min read
Puncak Musim Kemarau 2023 terjadi di Bulan Juli dan Agustus, Berikut Faktanya!

Puncak Musim Kemarau 2023 terjadi di Bulan Juli dan Agustus, Berikut Faktanya!


Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia tahun ini, terjadi pada bulan Juli dan Agustus 2023. Saat itu, jumlah zona musim mencapai 72,53 persen. Adapun saat ini, per bulan Juli jumlah zona musim wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau mencapai 60 persen.


Selain itu, BMKG juga memperkirakan  musim kemarau tahun ini akan lebih kering dibandingkan tiga tahun terakhir. Hal ini disebabkan selama tiga tahun terakhir, terjadi musim kemarau basah atau musim kemarau yang diiringi angin kencang dan hujan di beberapa daerah.


Fakta lainnya menunjukkan bahwa tahun ini terdapat fenomena El Nino lemah dengan peluang 50-60 persen pada semester II 2023. 

Perlu diketahui, El Nino merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normal yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur. Adanya pemanasan suhu muka laut ini mengakibatkan bergesernya potensi pertumbuhan awan dari wilayah Indonesia ke wilayah Samudera Pasifik Tengah, sehingga akan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia. 

Hal ini dapat berdampak pada berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia selama periode Musim Kemarau 2023. Bahkan sebagian wilayah diprediksi akan mengalami curah hujan dengan kategori Bawah Normal (lebih kering dari kondisi normalnya) hingga mencapai hanya 20 mm per bulan dan beberapa wilayah mengalami kondisi tidak ada hujan sama sekali. 


Walaupun terjadi puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia, tetapi suhu udara di beberapa wilayah terasa dingin terutama malam dan pagi hari. 

Hal ini disebabkan karena ketika musim kemarau pada siang hari terik sinar matahari maksimal karena tidak ada tutupan awan, akibatnya permukaan bumi menerima radiasi yang maksimal.


Sedangkan pada malam hari, bumi akan melepaskan energi karena tidak ada awan. Sehingga di malam hari sampai dini hari, radiasi yang disimpan di permukaan bumi akan secara maksimal dilepaskan. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan permukaan bumi mendingin dengan cepat karena kehilangan energi secara maksimal.


Selain itu penyebab lain suhu udara terasa lebih dingin adalah adanya musim dingin di Australia. Terdapat tekanan udara relatif tinggi di Australia yang menyebabkan pergerakan masa udara dingin menuju Indonesia atau lebih dikenal dengan Angin Monsun Australia. Angin monsun membawa suhu dingin yang ada di Australia menuju ke wilayah Indonesia bagian selatan. Sehingga mengakibatkan suhu di beberapa wilayah Indonesia bagian selatan (Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara) terasa lebih dingin.


Sumber :


https://amp.kompas.com/nasional/read/2023/03/06/21121241/bmkg-musim-kemarau-tahun-ini-berisiko-lebih-kering-dibandingkan-3-tahun


https://www.antaranews.com/berita/3644076/bmkg-bandung-sebut-wajar-suhu-lebih-dingin-ketika-kemarau


https://m.mediaindonesia.com/humaniora/592141/bmkg-prediksi-puncak-musim-kemarau-terjadi-pada-juli-hingga-agustus-2023