Dugderan: Simbol Harmoni kukuhkan Toleransi Kota Semarang

Dugderan: Simbol Harmoni kukuhkan Toleransi Kota Semarang

By Divisi News 6 min read

Semarang, (16/02/2026) — Acara Dugderan tahun ini dimulai pada pukul 13.00 WIB dengan mengusung tema "Bersama dalam budaya, toleransi dalam tradisi". Kegiatan diawali dengan pertunjukan karnaval yang menempuh rute dari Balaikota Semarang menuju Masjid Agung Kauman. 

Dugderan yang merupakan simbolisasi pembukaan bulan Ramadhan, kali ini menjadi istimewa karena berdekatan dengan perayaan Imlek dan Pra paskah bagi umat Kristen dan Katolik. Memadukan berbagai unsur budaya, menyiratkan langkah inklusif kota Semarang dalam mencipta harmonisasi dan toleransi bersama. 

"Yang penting intinya bahwa Dugderan ini menjadi titik tolak menghantarkan teman-teman yang Muslim untuk mulai berpuasa,” ujar walikota Semarang, Agustina Wilujeng.

Peserta dari 16 kecamatan, organisasi, masyarakat, pelajar serta komunitas seni turut berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan. Acara diawali dengan prosesi upacara dugderan, kirab budaya, pembacaan shuhuf halqah, pemukulan bedug, pelepasan bom udara, hingga prosesi andum ganjel rel. Wali Kota membagikan roti ganjel rel kepada masyarakat sebagai simbol kebersamaan dan persiapan menyambut Ramadan. 

“Tahun ini berbeda dari tahun-tahun yang lalu, di mana tahun ini ada bergada bendil mataram yang mengiringi rombongan walikota, terus ada rombongan marching band dari PIP, juga ada rombongan atraksi-atraksi yang lain, ekornya panjang sekali tahun ini” ujar Haryadi selaku Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang

Haryadi juga menambahkan, agar kedepannya semua elemen masyarakat turut terlibat dan berpartisipasi untuk menjaga warisan budaya yang sudah berlangsung selama ini.

Don yang merupakan pendamping peserta karnaval mengungkapkan “Antusiasnya sangat luar biasa mulai dari anak-anak hingga kalangan dewasa, dan antusias kali ini saya pikir lebih ramai dari tahun-tahun kemarin”.

Lewat tradisi Dugderan 2026 ini, Semarang semakin mematangkan identitas diri menjaga tradisi juga stabilitas keberagaman budaya, menumbuhkan harmonisasi dan toleransi.