Qittara
Penulis
16 min read dibaca 89 kali

Polaris

By Qittara 16 min read
Polaris
Gadis bernama Ara yg sedang menghadapi ujian percintaan dengan sang kekasih, berharap menemukan Bintang Utaranya dan mendapat petunjuk untuk kembali bangkit.

Cast :

.Tiara Andari atau biasa dipanggil Ara, seorang siswi IPS SMA kelas 2 di salah satu SMA favorit di Jakarta.

.Aldo Winata atau Aldo, satu sekolah dan satu angkatan dengan Ara, beda kelas karna Aldo itu jurusan IPA.

.Naufal Wijaya, sahabat Ara sejak SMP. Satu kelas dengan Ara, teman sebangku, teman curhat, teman keluh kesah, orang yg selalu ada untuk Ara.

.Lidya Pradipta, teman sekelas Aldo, teman Ara juga.


Note :

1. Bahasa baku dan non baku.

2. Banyak typo hehe

((Chapter 1))


Ara, seorang siswi yg duduk di bangku kelas 2 salah satu SMA favorit di Jakarta, Ara tergolong siswi yg biasa saja, dia menilai dirinya tidaklah terlalu pintar, ia pun heran kenapa bisa masuk dan bertahan hingga sekarang, dia menganggap dirinya hanya beruntung saja. Ara adalah seorang social butterfly atau orang yg mudah bergaul dan mudah disukai oleh banyak orang karna sikap ramah tamahnya, sehingga dia mempunyai banyak teman disekelilingnya. Namun tetap saja, dia paling dekat dengan sahabatnya, Naufal. Mereka kenal saat mereka berdua masuk ke sebuah SMP yg sama, saat upacara hari Senin, hari pertama masa orientasi. Ara sedang dalam posisi sedang tidak enak badan, tetapi ia menolak untuk izin karena dia berkata "ini hari pertama sekolah, Ara ingin bertemu teman teman baru,masa hari pertama sudah bolos?" Itulah yg Ara katakan saat itu, alhasil, saat upacara dia pingsan, saat itulah Naufal memasuki kehidupan Ara, ya, mereka satu kelas, tapi karna Naufal berdiri di barisan paling belakang, Ara tidak begitu melihatnya. Saat itu, Naufal yg menggendong Ara ke UKS karna pihak kesehatan yg berjaga disitu tidak ada yg kuat (mayoritas perempuan) dan tidak disediakan tandu darurat karna hal hal tersebut sangat jarang terjadi. Ara langsung ditangani oleh pihak kesehatan, setelah dicek semua, ternyata benar saja apa yg dipikirkan Naufal, Ara kelelahan dan memang sedang dalam kondisi yg tidak sehat.


Naufal menemani Ara hingga sadar, sebenarnya ia sudah berkali kali diminta untuk kembali ke barisan, namun karna ia terlalu malas berpanas panas ria, dia beralasan "ngga mau, saya mau disini nemenin Ara, saya teman sekelasnya, nanti kalo dia udah siuman bisa ke kelas bersama" petugas kesehatan pun iya iya saja karna percuma juga menyuruhnya untuk kembali jika dirinya bersikeras tidak mau. Beberapa menit kemudian Ara sadar, Naufal pun bergegas mengambilkan teh hangat yg sudah disediakan sebelumnya.

"Kamu ngga papa?" Tanya Naufal

"Kamu siapa? maaf ya aku belum hafal nama nama siswa disini karna belum terbiasa dengan lingkungan baru, dan aku tidak apa apa, hanya sedikit pusing" jawab Ara.

"Minum dulu"

"Terima kasih, aku Ara"

"Aku tau, aku Naufal, dan aku teman sekelasmu"

"Terima kasih, Naufal."

Dimulai dari hal tersebutlah mereka menjadi sahabat, suka satu sama lain? Tentu saja pernah mereka lalui, namun setelah berjalan beberapa bulan, mereka memutuskan untuk menjadi sahabat saja, karna mereka lebih nyaman dengan status tersebut, dan mereka tidak ingin merusak persahabatan mereka. Namun, yg tidak Ara ketahui, Naufal masih menyimpan rasa terhadapnya. Tetapi Naufal tidak ingin menjadi egois. Tentu dirinya merasa sakit, apalagi setiap mendengar seorang Ara bercerita mengenai laki-laki yg ia suka, atau ketika Ara menangis karna laki-laki lain. Naufal seperti ingin menghampiri lelaki itu dan memukulinya saja, dramatis memang, tapi ia tak rela gadis yg selama ini dia buat bahagia dan tersenyum sekuat tenaganya dibuat menangis begitu saja hanya karna masalah kecil, dan itupun bukan salah Ara. Namun yang bisa ia lakukan hanyalah menghibur Ara lagi dan lagi hingga senyuman Ara kembali merekah, kembali lagi seperti Ara yg biasanya, sungguh, itu merupakan senyuman paling manis yg pernah ia lihat seumur hidupnya. Atau memang Naufalnya saja yg hanya melihat Ara selama ini tanpa mempedulikan wanita lain, tapi begitulah pandangan seorang Naufal terhadap Ara. Meskipun disaat itu mereka hanya mendudukin bangku SMP, namun mereka bersikap lebih dewasa dibanding dengan siswa lain seumur mereka. Ara bersyukur memiliki sahabat seperti Naufal, Naufal seperti bintang polaris bagi Ara, selalu mengarahkan Ara menuju jalan kembali disaat Ara kehilangan arah sebagai dirinya sendiri. Saat mendekati ujian, mereka pun berjanji akan memasuki sekolah yg sama, di SMA XX. Yg tak disangka oleh keduanya, mereka berdua diterima, Naufal memang pintar, Ara? Beruntung, sangat beruntung, dan yg tidak disangka lagi oleh mereka, mereka ditempatkan pada kelas yg sama. Takdir memang tak dapat ditebak oleh siapapun. Tahun pertama mereka lewati seperti biasanya, mereka menjadi teman sebangku yg sangat akrab, bisa dibilang terlalu akrab, saling mengejek, makan bersama, bercanda, dan lain sebagainya. Hingga teman sekelas lain pun tak luput mengira mereka adalah sepasang kekasih. Tapi tentu saja, hal itu dibantah oleh keduanya,

"Ih apasih kita cuma sahabat, amit-amit pacaran sama Ara, orangnya manja, cengeng, bawel pula" kata Naufal

"Dih! Emang kamu pikir Ara mau apa punya pacar kek kamu, udah nyebelin, sukanya ngejekin Ara gendut, pendek, nyebelin pokoknya!!" jawab Ara.

"Duh kalian tu cocok banget jadi pasangan, lucu, gemes hihi" kata salah satu teman mereka

"NO" sahut keduanya secara bersamaan

"Tuhkan barengan, jodoh itu mah udah" jawab temannya dan membuat teman satu kelas lainnya tertawa. Muka mereka berdua langsung merah seperti tomat matang, tetapi mereka pun ikut tertawa, tanpa Ara sadari, Naufal melihatnya dengan pandangan penuh arti.

.

.

To be continued.